Jumat, 05 Juni 2015

Aku Bukan Sebuah Gulma

Ditengah kesibukanku, aku mencoba untuk tetap bersyukur. kadang perasaan itu datang tiba-tiba, entah mengapa bayangan seseorang selalu terbawa dalam setiap langkahku. Aku bahkan tidak mengerti dengan diri dan perasaanku. Aku selalu mengadu kepada sang maha pencipta rasa bahwa aku tak kuat menguji hatiku lagi dengan perasaan yang akan membuatku rapuh. sungguh ini perasaan yang luarbiasa menganggu kesibukanku. Kita bertemu tanpak sengaja, tingginya gunung jaran susang dan hamparan luas pepohonan serta tiupan angin sepoi sepoi menjadi saksi bisu pertemuan kita. entah mengapa kau terlihat sangat mengagumkan saat itu, diammu membawa pesona alami yang membuatku terpikat. spontan aku menegurmu dengan suasana yang biasa saja tanpa dosa. bahkan aku terkejut saat melihatmu rupa seorang pria gagah yang pernah tersirat punah menghampiri sela-sela kekosongan hatiku. tetapi aku salah... itu bukan dia, tetapi orang lain. entah mengapa aku terdiam sejenak memastikan bahwa pria itu bukanlah dia. aku segera mengalihkan pandanganku dan berbicara padanya basa-basi. kala itu perpulangan dari pendakian gunung jaran susang, aku memang turun jauh lebih lambat dibandingkannya yang sudah terbiasa mendaki. pandanganku saat itu fokus kepada getaran kakinya yang sedikit bergetar dan perlahan-lahan seakan dia ingin terjatuh saja. aku menyapanya dengan pelan, bukan karena inginku mendekatinya... tetapi, hanya sebuah percakapan biasa layaknya teman lainnya. hingga akhirnya aku mengajaknya istirahat sambil menunggu yang lainnya yang masih jauh tertinggal. ketika itu kita mulai terlihat akrab namun tidak banyak berbincang. cuek... dan sok cool, ya... dia memang bawaannya seperti itu. 

seiring berjalannya waktu kisah kami bermula dari pendakian gunung jaran susang. sapan dan rayuan elalui media sosial sudah menjadi hal biasa. kamipun tak mengira bahwa lokasi kerjaku dengan usahanya berada dikecamatan yang sama. sepertinya Allah sudah mengatur perjalanan kami dengan teliti. kedekatan mulai terlihat. bahkan rayuan dan kegombalan mengalir mesra membuatku merasa indah dalam setiap hariku. kau membawa warna, entah dulunya mungkin hanya ada warna putih dan hitam, dan hadirmu mengubah dua warna itu menjadi pelangi cantik yang berbinar disetiap anganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar