Minggu, 22 Februari 2015

Cinta sederhana... terkadang jatuh cinta itu sulit dipahami... dengan siapa? Siapakah dia? Mampukah iya mencintaiku? Lalu... bagaimana jika iya mencintaiku? Dan akhirnya aku tersakiti? Pertanyaan itu selalu menghantuiku.... membuatku takut untuk mengilang kesalahan yang sama. Rasa tromapun menghampiriku... kata pacaran itu membuatku semakin tersakiti... bahkan jika salah seorang kerabat dekatku bertanya "mana pacarmu" jawabanku tidak semudah mengungkapkan kata " tidak punya" perlu pemikiran yang panjang... dan harusku ceritakan kronologisnya hinggaku merasa selalu sendiri... tidak lama memang mengaku "jomblo" tetapi.... mulut boleh berbohong... tapi mata selalu berbinar mengatakan kejujuran. Bukan katenaku tidak mempunyai pasangan... hanya saja aku takut tersakiti kembali. Sejak itu akupun takut dengan getaran cinta dan panah asmara... dan boleh dikatakan... aku takut jatuh cinta, hinggaku bersihkukuh untuk tidak berpacaran.

Airy..." sapaku kepada teman sambil berjabat tangan.
dela..." sahutnya memperkenalkan dirinya. Kala itu... aku menyibukkan diri dengan kegiatan-krgiatan yang sok sibuk. Kadangku hadiri rapat ibu-ibu PKK bersama ibuku... kadang pula ikut melakukan survei bersama ayahku... bahkan aku menghabiskan waktu bersama kakak sepupuku berjualan baju ditengah teriknya kota sumbawa. Ya... sumbawa, pulau kecil yang berada didaerah nusa tenggara barat. Mungkin.. begitu kecil dibandingkan pulau pulau yg ada didunia... tapi, mengenangkan seribu kisah cinta yang bakalan tetjadi setiap waktunya. Bahkan... tidak sanggup dengan seribu penulis untuk mentransfer tulisan indah mengenai sumbawa.

Sore itu... aku hendak pulang bersama Ayahku dari pusat kota. Aku tinggal di plampang. Sebuah kecamatan kecil nan indah, yang melukiskan 1lseribu kennagan manis tak terjamah siapapun dan hanya aku dan alamku yang tahu.... betapa mempesona ceritaku. Dalam perjalanan aku mencoba memotret kayu indah... terik matahari seakan tersipu malu kepadaku... kuning keemasan mengisyatkanku bahwa hari sudah mulai menjelang petang. Dentah mengapa... dimusim kemarau dlm perjalanan begitu gersang... dedaunan seakan mati kehausan... tapi mataku selalu menatapnya indah... bahkan ada satu moment yang membuatku terkesima... itu dia... satu pohon yang berdaun ranting tanpak bunga, pucuk dan daun satupun. Ku ambil photo dengan hati2 kemudian kupaskan posisi sunset ditengah pohon infaj itu. Terlukis laksana sang photografer yang sdh mampu mengemban SLR entah itu merk terpopuler saat ini.